Apakah Sama?

Standard

Apakah sama, dia yang berenang di lautan, dengannya yang berada di kolam renang?
Apakah sama, dia yang hadir di dunia serba ada, dengannya yang terlebih dahulu harus ditempa bagai baja?
Tentulah keduanya tak sama.

Kita. Sebuah anugerah, kita dihadirkan di dunia, dengan segala kelebihan dan kekurangan yang dibekalkan olehNya. Dengan kelebihan kita akan berkarya, dan kurangnya? akan membuat kita sadar bahwa kita hanya sekedar hamba –yang tak pantas mendapat kata sempurna, yang memang mutlak hanya milikNya.

Assalamu’alaykum. Laba-labanya banyak ya. ‘afwan hihi.. ^^

Apakah sama? Bukan, maksud saya bukan ingin membandingkan untuk mengingkari karuniaNya. Tapi ingin menambal sulam kekurangan kita dengan belajar, agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi –tanpa harus merasa sempurna, sampai-sampai sombong dihadapan-Nya. Na’udzubillah..
Adalah dua orang anak manusia, Rani dan Rina namanya. Mereka mirip, tapi tak sama. Berasal dari satu keluarga yang sangat menjunjung tinggi disiplin, anti-salah dan lumayan otoriter. Rani memilih rumah sebagai tempat peraduannya, sedang Rina memilih merantau melihat dunia. Lantas, siapa yang lebih dewasa?
Memang, merantau akan menjadikan seseorang lebih mandiri dan dewasa. Tapi seseorang yang bagaimana?
Nyatanya, tempaan kehidupan otoriter di keluarga mereka membuahkan dampak yang berbeda. Rani yang setiap saat dimarahi jika salah, berusaha berdisiplin membagi waktu antara dia dan keluarga, disulap menjadi wanita yang benar-benar dewasa. Sedang Rina? Dia biasa saja seperti gadis seumurannya. Memang, dia seorang aktivis yang aktif mengikuti ini dan itu. Tapi, semua yang dilaluinya tak sebanding dengan apa yang dihadapi Rani. Ingin mengutuk keadaan, apalah daya? Dia memutuskan untuk melalui saja dengan janji, hari ini harus lebih baik dari sebelumnya. Apakah mereka tumbuh menjadi wanita yang sama? Tentu tidak!

cadar4

Benarlah kata Bang Tere,

Jika kita melihat seorang (wanita) yang begitu tangguh, kuat dan mandiri. Maka jangan lihat dia sekarang berdiri tegak di sana begitu mengagumkan. Tapi tanyakanlah, seberapa banyak hal, orang, peristiwa menyakitkan
yang telah dia lewati, yang membuatnya menjadi semakin kuat.

Wanita seperti itu mahal harganya. Memang, terkadang seseorang hanya melihat apa yang nampak, dan seringnya begitu. Padahal banyak liku-liku yang dia hadapi. Bisa puluhan, ratusan bahkan ribuan. Dikala gadis seumurannya sibuk bersosialita di luar sana, ia menempa diri demi menjadi wanita sesungguhnya. Ini baru kisah dua orang saudara, bagaimana di luar sana. Tengoklah kanan-kirimu, apakah sama?
Baiklah, jangan melulu melihat contoh dari seorang yang masih hidup. Kita tengok kisah seorang wanita, putri dari manusia yang berakhlak paling mulia, Fathimah binti Rosulullah SAW. Pasti pernah ‘kan mendengar atau membaca ceritanya? Ya. Dia yang dahulu melindungi ayahandanya dari orang-orang kafir Quraisy, yang tangannya sampai lecet karena menumbuk/menggiling gandum sendiri dan yang-yang-lainnya. Lihatlah ia. Dia bertumbuh menjadi seorang wanita tangguh, bergelar penghulu wanita penghuni surga[1]. Alangkah indah balasan-Nya 🙂
Jadi, tak usahlah bersedih jika hujan badai melanda, pastilah ada pelangi sesudahnya. Tak usahlah risau pada cobaan yang ada di depan mata, yakinlah! itu salah satu cara Allah untuk mendewasakan kita, mengangkat derajat kita. Toh Allah tidak akan memberi cobaan melebihi kemampuan kita, ‘kan? Yang ada, takaran ujian kita ngepas dengan kapasitas yang kita punya. Dan “Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun,”(QS. Yunus : 44).
Lagi, pahamilah. Segala yang kita lakukan di dunia ini berbayar. Peluh yang tiap hari menetes di dahimu akan dibayar tunai oleh-Nya. Asal 2, ikhlas dan sabarlah. Jika ingin mengeluh, cukuplah Dia yang kau tuju. Pasrahkan segala bentuk risaumu, dan biar Dia selesaikan dengan cara terbaik-Nya.

Sekarang, tengoklah kanan-kirimu, apakah sama? jika tidak, carilah manusia-manusia langit itu, hampiri dan belajarlah arti kehidupan darinya. InsyaAllah, akan membuat kita lebih dewasa dan lebih mengenal-Nya. InsyaAllah 🙂

[1] HR. al-Hakim dengan isnad jayyid. Lihat Fathul Bari, Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (VVI/132)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s